Rabu, 31 Juli 2013

[H-um] Kembali ke Blues, Kembali Pulang!

Oleh : 
FarizRM | rollingstones.co.id – 15/07/13



Jakarta
 - Sekitar tiga tahun silam, ketika mempersiapkan rencana produksi album rekaman saya, Fenomena, saya dan Erwin Gutawa – sahabat bermusik yang berperan sebagai produser – saling bertukar pikiran, mencoba mengolah gagasan tentang arah dan alur warna musik yang akan kami pilih untuk menjadi benang merah presentasi musik album tersebut.

Tentu saja sebagai pemusik yang sangat mengenal pribadi saya, Erwin paham betul bahwa latar presentasi karya musik saya sangat berakar pada blues, bukan jazz seperti pendapat banyak orang. Namun ketika itu juga, Erwin mengungkapkan keraguannya bahwa blues yang amat ekspresif – sehingga presentasinya akan dominan terasa bebas dan improvisatif – akan mampu ‘nyambung’ dengan telinga khalayak pencinta musik di tanah air.

Saya sangat memahami pandangan Erwin, dan jujur saja, itu pula yang saya pikirkan dulu di awal karier – sehingga memaksa saya putar otak untuk mewujudkan impian gejolak ritme soulful groove, progress ‘chordal tujuh’ yang bluesy dan rasa bebas yang saya ‘kultus’-kan itu bisa tertuang lewat karya-karya musik di ‘kolam industri musik pop’ nasional.

Itu sebabnya saya akhirnya merasa cukup nyaman berenang di wilayah pop progresif, karena setidaknya bagai memiliki legalitas yang sah untuk menyertakan dan meramu aneka asupan warna musik tak terbatas. Satu bentuk kebebasan lumayan terpenuhi.

Namun kurang lebih dua bulan belakangan ini kenyamanan yang nyaris meninabobokan saya lebih dari 35 tahun tiba-tiba berakhir dan saya bagai bangun tidur karena disiram air es! Dan bukan karena disiram oleh mereka yang lebih tua dan pantas menyiram demi mendidik kemalasan saya yang terlena, tetapi disiram oleh tiga orang pemusik yang jauh lebih muda dan berselisih umur lebih dari 25 tahun dengan saya! Ajaibnya, bukan merasa terusik, tapi saya sangat berterima kasih serta akhirnya malah ketagihan minta diajak bengal.

Saya sempat pasrah dan tahu diri bahwa core musik saya bukan jenis musik yang akan disetujui oleh para produser acara televisi yang lebih percaya bahwa banyaknya pemirsa yang menyaksikan tayangan acara televisi lebih penting daripada kadar intelektual pemirsa yang berarti; nonton tapi tidak mengerti lebih bagus dibanding nonton untuk mampu mengerti pesan dan misi tayangan.

Alhamdulillah, perubahan kali ini membuat saya lega. Tiga pemuda bengal yang berani menyiram seniornya kini memiliki identitas yang mulai marak jadi omongan di kalangan pemusik dan produser, umumnya di kolam renang indie nasional, sebagai: Ginda & The White Flowers.

Memang, industri musik independen lebih banyak melahirkan produk-produk karya musik nasional unik serta kreatif dan terbukti lebih sering berkiprah sebagai pahlawan tak dikenal dan tak perlu didukung pemerintah, membawa keharuman gambaran positif Indonesia melalui berbagai ajang pentas di mancanegara lewat jatuh bangun upaya sendiri dengan dukungan pihak-pihak yang percaya akan kapasitas serta misi mereka.

Bukan karena putus asa, tetapi karena begitu seringnya jadi penggemar blues yang dikecewakan janji membuat saya setengah acuh kalau mendengar ada pemusik tanah air yang mengaku memancang flagshipsebagai pemusik blues sejati. Dan umumnya memang berhasil juga sedikit membuat kita menoleh, sebelum akhirnya sadar bahwa: “Oh, cuma seorang peniru Hendrix dan Stevie Ray...”

Banyak pemusik lupa, bukan kehebatan keahlian teknis musik yang akan membuat pemusik dikenal, namun karakteristik gaya tersendiri yang lahir dari kejujuranlah yang akan membawa seorang pemusik pantas ditoreh dalam sejarah dan kelak akan mampu menginspirasi kehidupan banyak orang. Dan ingat, inspirasi tak dapat direkayasa.

Sering kita menyimpulkan, ketika sebuah grup musik memiliki identitas – seperti Ginda & The White Flowers – langsung sebentuk pemahaman awal terlintas di pikiran: ini pasti si Ginda tokoh utama dan yang lain adalah pemusik pengiringnya. Ini tidak benar!

Justru dalam formasi trio ini saya temukan penyatuan karakteristik yang luar biasa dari berbagai unsur pengaruh! Gegah sebagai bassist dengan background fusion dan rock yang dibesarkan di wilayah rutinitas pemusik kafe bahkan mampu meninggalkan kepatuhan a la pemusik kafe dan memutuskan untuk berani mengakomodir berbagai scale tanpa memaksa, sehingga kredo blues yang sering dianggap tiga jurus terasa lapang, membuat rekan-rekan dalam grup ini seperti anak kecil dilepas di arena wahana Dunia Fantasi.

Drummer belia yang luar biasa dan menjadi tiang penyangga utama grup ini sudah lama menjadi perhatian saya. Yandi, yang bahkan belum masuk kriteria remaja ting-ting karena belum berusia 17 tahun, sudah cukup memungkinkan saya berhak membisikkan kata-kata: “Sebaiknya boleh mulai pikir-pikir untuk merencanakan pensiun dini” kepada banyak drummer senior kita.

Dengan penguasaan akurasi dan dinamika yang nyaris sudah tak lagi perlu direncanakan, sel-sel kelabu di otak Yandi seperti bisa secara otomatis memerintahkan berbagai teknik pukulan bagai pindah pencet tombol!

Banyak pemusik belia mempresentasikan teknik mencengangkan, tetapi amat jarang usia belia mampu membawa kesan usia dewasa yang berpengalaman.

Seperti saya teringat ketika Indra Lesmana yang masih berusia 12 tahun mampu berekspresi dan dengan dewasa bermain layaknya Bubi Chen. Itu pula kesan saya terhadap Yandi ketika melihat ketenangan dingin yang menyimpan penguasaan kontrol emosi yang bahkan justru menjadikan presentasi blues, funk dan rock yang soulful dari Ginda & The White Flowers solid dan berkarakter, serta menjadikan kelahiran sebuah identitas yang akan sangat sulit terulang.

Saya juga tidak bisa memberikan penjelasan secara pasti: mengapa begitu sulit mencari seorang gitaris yang tak memiliki kecenderungan ambisi pemimpin dalam gaya permainannya. Apa karena mungkin kalau jadi pemain gitar tapi tidak bisa main solo sudah pasti tidak tenar?

Dan ini adalah hal paling menarik dari Ginda. Dia adalah salah satu pemusik generasi muda blues di ranah liar gitaris yang rata-rata berambut panjang. Ginda berambut pendek, nyantun Nyunda bawaan pemuda Sukabumi. Tapi tunggu sampai kita lihat Ginda menyandang Blue Strat Axe-nya.

Rasa terkejut kedua segera menyergap kita, karena Ginda tak langsung nge-lead meraung-raung layaknya pamer a la banyak lead gitaris, tetapi dari amplinya justru menyeruak kerenyahan chunky khas southern white funk. Walaupun terasa kita seperti terbawa lorong waktu ke masa-masa Tommy Bolin dan James Gang, tak satupun scale tiruan kita temui di permainan Ginda.

Saat tampil, Ginda & The White Flowers sering melakukan tribute. Selain sebagai penghormatan atas karya dan pemusik besar yang menginspirasi mereka, juga sebagai semacam penegasan untuk diketahui bahwa Ginda dan teman-teman bukan band cover version, karena mereka membawakannya dalam bentuk dan cara senyaman yang mereka inginkan.

Bisa dilihat “Crosstown Traffic”-nya Hendrix hingga “Superstition” milik Stevie Wonder tampil utuh sebagai versi khas Ginda dan kawan-kawan. Begitu pula saat membawakan “Suzie Bhelel”, lagu populer saya di tahun 1988, karya Dorie Kalmas, Sekar Ayu Asmara dan saya, yang aslinya sarat orientasi blues tiga jurus berformat 60’s jive beraroma Elvis Presley dan kami representasikan dalam leburan speed funky modern.

Saya memakai istilah leburan, karena pukulan Yandi beraroma soul, mengingatkan gaya yang jadi bandrolan David Garibaldi (drummer Tower Of Power) di pertengahan ‘70-an dan Gegah mengisinya lewat finger moving1/16, seperti diperkenalkan permainan sang penjahat bas legendaris Jaco Pastorius.

Gegah juga memanfaatkan mute dan harmonic dalam menempatkan jeda-jeda ketukan, menjadikan posisi Ginda bagai merangkap peran ganda: gitaris tapi juga perkusionis, yang memposisikan rhythmic riff-nya sebagaicounter.

Dalam album perdana Let Me Try, lengkap sudah Ginda, Gegah dan Yandi melakukan introduksi fondasi identitas. Dibuka dengan “Tahan Dulu” yang membawa saya nostalgia ke zaman pesta disko malam minggu era ’70-an, sering disebut dengan istilah Pesta Anjing Air karena tidak jelas yang punya pesta disko itu siapa, pesta di rumah siapa, yang datang siapa, atau pesta merayakan apa.

Satu-satunya hal yang pasti: Pesta tersebut pasti di malam minggu dan dua hal yang paling dicari di pesta seperti itu adalah mabuk dan cari pasangan! Bengal!

Lagu favorit saya di album ini adalah “Always on My Mind,” membuat saya semakin punya niat melamar jadi keyboard player tetap mereka. Sayangnya saya tahu diri.

Saat pentas di Airman Lounge pada 5 April lalu, bekerja sama dengan nxstream.com, Ginda & The White Flowers melakukan terobosan penyiaran Direct RealTime Livestreaming audiovisual konser 150 menit mereka yang bertajuk Blues Experience ke seluruh pengguna Internet di seluruh dunia pada saat yang sama.

Fondasi telah dibeton, tiang pancang sudah disangga. Usia produktif nan merentang panjang mestinya menjadi hal yang mesti disikapi dengan lebih bijaksana. Periode waktu yang menempa harus dipahami sebagai rentang proses, hal yang penting dan utama dalam menyikapi anugerah dan karunia Tuhan. Dari tahap proses tersebut, seorang manusia mampu menemukan, mengenal dan menghargai karakter jati dirinya.

Bagi saya, pengalaman menemukan kembali lingkungan rumah masa muda bermusik saya, blues, seperti kembali pulang. Mungkin seperti seorang ayah yang bahagia melihat anak dan cucu bermain ramai berceloteh di pekarangan rumah, begitu pula perasaan hati saya saat bertukar mood dan ekspresi bersama Ginda & The White Flowers. Lega rasanya bisa mencapai cita-cita kecil saat ingin jadi pemusik, mimpi menyanyikan masterpiece Led Zeppelin, “Whole Lotta Love”, dengan gejolak gagasan dan cara kami sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar