Oleh
Jonah Weiner I rollingstones.co.id – 01/07/13
Wawancara yang membuka kedok penguasa
dunia musik elektronik yang kembali merombak musik dansa.
Paris - Studio Daft Punk di Paris terdapat di jalan
raya yang jelek dan ramai di sebelah selatan kota, dekat stasiun kereta dan
rumah sakit, di balik pintu garasi hijau. Untuk masuk, kita harus memencet bel
dan memperlihatkan wajah ke kamera keamanan, lalu pintunya terangkat dan
memperlihatkan halaman indah berisi batu ubin dan sederet gedung berwarna kulit
yang dihiasi tumbuhan menjalar.
Pada suatu siang di awal musim Semi, Guy-Manuel de Homem-Christo dan Thomas Bangalter, warga Paris sejak lahir, sahabat sejak lama dan musisi penuh rahasia di balik topeng-topeng robot Daft Punk sedang berdiri di atas batu ubin dan berdiri di bawah sinar matahari seolah-olah baru muncul dari gua. Bisa dibilang memang itu yang terjadi.
“Ini hari indah pertama yang kami lihat setelah berminggu-minggu,” kata de Homem-Christo. Sambil menoleh ke ruang tanpa jendela tempat ia dan Bangalter telah menghabiskan jam-jam tak terhitung untuk mengutak-atik synthesizer demi mencari bunyi-bunyi baru, dia mengangkat bahunya dengan pasrah: “Lagipula kami selalu ada dalam kegelapan.”
Bangalter mengambil kunci dari saku dan membuka ruangannya–di sini, pada April 2008 setelah tur dunia, Daft Punk bersembunyi untuk menciptakan lagu-lagu album keempat mereka, Random Access Memories. Di tur, mereka mengubah amfiteater, lapangan bisbol dan stadion sepak bola menjadi pesta rave penuh euforia, dengan mengendalikan supercomputer khusus dari dalam piramida aluminium setinggi 7 meter yang dilapisi layar-layar di tengah-tengah sinar-sinar LED.
Nama Daft Punk pertama kali melejit dalam ledakan elektronik di tahun ’90-an, tapi tur itu – pertunjukan pop yang revolusioner – membuat mereka jauh lebih populer, dan mengubah mereka dari sisa tren pudar menjadi pionir tak sengaja dari kegilaan akan musik dansa yang telah menaklukkan dunia pop. Artis lain dalam posisi serupa mungkin akan bermain aman – bermain di tempat-tempat yang makin besar dan sold out, dan memainkan musik menghentak yang sama – tapi Daft Punk mengakhiri turnya setelah 48 konser, dan ketika mereka mulai menggarap materi baru, mereka ingin merombak diri sendiri.
“Musik elektronik saat ini ada di zona nyaman, dan tidak bergerak sama sekali,” kata Bangalter. “Seharusnya bukan itu yang dilakukan seniman.”
Bertubuh tinggi dan ceking, Bangalter, 38 tahun, sedang memakai sweater abu-abu dan skinny jeans dengan lubang di lutut yang cukup besar untuk dilewati bola tenis. Wajahnya lonjong dan berjenggot, dengan rambut ikal coklat membentuk Jewfro kecil. (Ayah Bangalter, seorang artis dan produser disko era ’70-an dengan nama panggung Daniel Vangarde, berdarah Yahudi, tapi rumah tangga Bangalter tidak religius.)
Saat Bangalter sedang santai, matanya berbinar dan bahasa tubuhnya menghangat: Dia akan bersandar mendekat, dan mencolek kita dengan ramah untuk menegaskan maksudnya. Namun kadang-kadang, saat orang lain sedang bicara, hidungnya mengernyit seperti tak senang, seolah-olah mencium bau busuk. Michel Gondry, yang kenal Daft Punk sejak mereka menyewanya untuk menyutradarai video untuk hit “Around the World” di tahun 1997, berkata bahwa Bangalter punya sifat kritis dan lugas yang dapat mengejutkan.
“Kami pernah ada di sebuah kedai kopi di Paris, dan dia berkata bahwa dia benci film pertama saya,” kata Gondry sambil tertawa. “Dia merasa itu kurang hidup, dibuat-buat! Sangat kasar, bukan? Beberapa orang memang berbicara apa adanya.”
De Homem-Christo, 39 tahun, berwajah lebar dan halus, dengan bulu wajah kasar pada pipinya dan rambut coklat panjang. Sewaktu remaja, rambutnya berminyak dan acak-acakan, dan dia sering terlihat memakai mantel bulu serta membawa barang-barangnya dalam kantong belanja plastik. Laurent Brancowitz, gitaris Phoenix yang pertama kenal duo itu di tahun 1992, berkata bahwa dulu de Homem-Christo mirip “perempuan” dan “pecandu”, tapi kini penampilannya lebih bersih walau berantakan: jaket kulit coklat, motorcycle boots lusuh, kalung tulang garpu kecil di atas sweatshirt bahan velour hitam. Dia kurang suka kontak mata, dan berbicara jauh lebih sedikit dibanding Bangalter.
“Guy-Man tak banyak bicara,” kata Daniel Dauxerre, yang dulu bekerja di New Rose, sebuah toko musik di Paris tempat Daft Punk mencari piringan hitam Augustus Pablo dan The Beach Boys ketika masih remaja. “Saat dia bicara, selera humornya sangat sarkastis – mungkin dia mengolok kita, kita tak pernah tahu pasti.”
Daft Punk adalah superstar paling misterius dalam pop. Selain menyembunyikan wajah saat tampil di konser, video dan foto, mereka bekerja secara rahasia dan sangat menjaga detail-detail biografis dalam kesempatan wawancara yang langka. Jadi orang luar akan memasuki tempat kerja mereka dengan penuh takjub, barang-barang biasa pun terkesan penuh makna.
Di ruang synthesizer, terdapat piringan hitam Blondes Have More Fun-nya Rod Stewart di satu sudut denganboombox JVC kecil di dekatnya untuk mendengar rough mix, dengan piramida plastik hitam di atasnya. Blu-rayTron: L’Heritage (Tron: Legacy, yang musiknya digubah oleh Daft Punk) dan Star Wars: L’Integrale de la Saga berada di rak di dekat buku desain-desain Saul Bass, Walker’s Rhyming Dictionary dan buku dari seri Life Science Library dengan judul The Mind.
Pada tembok terdapat foto robot-robot Daft Punk berdiri bersama R2-D2 dan C-3PO dalam pemotretan iklan Adidas. “Inilah momen saat saya merasa kami benar-benar memasuki budaya populer,” kata Bangalter.
Dia menuju daya tarik utama kamar itu: sebuah modular synthesizer raksasa yang tingginya sekitar 1,2 meter dan lebarnya 1,8 meter. “Ini adalah sistem khusus, baru dan dibuat untuk kami oleh orang di Kanada,” katanya. Di dalam empat peti kayu seukuran pencuci piring terdapat lusinan osilator, noise generator danenvelope follower; di atasnya terdapat Borg filter, Boogie filter, step seqeuencer dan osiloskop kuno. Lampu-lampu berkelip, tombol-tombol perak dan 933 kenop muncul dari balik kabel-kabel merah, abu-abu dan kuning.
“Dengan synthesizer seperti ini, ada begitu banyak elemen yang mempengaruhi suaranya, dari suhu ruangan hingga kapasitor – ribuan parameter kecil yang kacau,” kata Bangalter dengan bangga. “Ini kebalikan dari lingkungan steril sebuah komputer.” Dia mendengar kabar bahwa produser asal Kanada, Deadmau5, mengetahui tentang sistem itu, mengontak pembuatnya dan “memesan yang sama persis.”
Tapi saat Bangalter menyebut sterilnya musik komputer dengan sinis, dia mengacu kepada penerus-penerus Daft Punk: para idola musik dansa yang mengambil alih mainstream, yang semuanya menggilai Daft Punk. David Guetta memutar lagu-lagu mereka di Ibiza dan menyebut album debut mereka, Homework (1997), sebagai “sebuah revolusi”. Avicii menyebut perkenalannya kepada musik elektronik dengan “mendengar banyak Daft Punk sebelum saya tahu house music itu apa.” Ide helm Deadmau5 berasal dari mereka. Skrillex mengaku bahwa menyaksikan piramida Daft Punk “mengubah hidup saya.” Swedish House Mafia menyatakan “Daft Punk idola kami dalam semua hal.”
Walau banyak dicintai, Bangalter dan de Homem-Christo merasa sangat ambivalen terhadap penerus mereka, dengan musik yang menghantam dan bass drop berat yang dapat ditebak. “Kini, musik elektronik seperti minuman energi dalam bentuk audio,” kata Bangalter. “Para artis menyodorkan musik yang agresif, energetik dan menstimulasi berlebihan – rasanya seperti sedang digoyang-goyang orang. Tapi musik mereka tidak menggerakkan orang-orang secara emosional. Itu bisa membuat merasa hidup, tapi...”
“Tidak dalam, hanya di permukaan,” kata de Homem-Christo.
“Mungkin itu bedanya cinta dan seks, erotisme dan pornografi,” kata Bangalter.
Saat Daft Punk di tengah-tengah pembuatan album barunya, mereka ingin membuang kebiasaan lama dan bekerja “dari nol,” kata Bangalter. Tiba-tiba mereka merasa bahwa teknik mengambil sample dari piringan hitam funk, disko dan soft rock sudah menjadi rutinitas. Drum machine yang dulu digunakan sebagai fondasi lagu sudah terdengar mekanis – “autopilot,” kata Bangalter.
Mereka buat rencana baru yang akan membawa Daft Punk semakin menjauh dari musik elektronik: “Kami ingin lakukan apa yang dulu dilakukan dengan mesin dan sampler,” kata Bangalter, “tapi dengan manusia.”
Idenya adalah merombak musik mereka tapi tetap mempertahankan esensinya, sekaligus melampaui para penerus mereka. “Dalam musik elektronik sekarang, ada krisis identitas,” kata Bangalter.
“Kita mendengar lagu: Itu lagu siapa? Tak ada ciri khas. Semua orang membuat musik elektronik dengan peralatan dan cetak biru yang sama. Saat mendengarnya, kita merasa itu bisa dibuat pada iPad.” Dia cemberut. “Jika semua orang tahu triknya, tak ada sulap lagi.”
Kisah selengkapnya baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 99, Juli 2013.
Pada suatu siang di awal musim Semi, Guy-Manuel de Homem-Christo dan Thomas Bangalter, warga Paris sejak lahir, sahabat sejak lama dan musisi penuh rahasia di balik topeng-topeng robot Daft Punk sedang berdiri di atas batu ubin dan berdiri di bawah sinar matahari seolah-olah baru muncul dari gua. Bisa dibilang memang itu yang terjadi.
“Ini hari indah pertama yang kami lihat setelah berminggu-minggu,” kata de Homem-Christo. Sambil menoleh ke ruang tanpa jendela tempat ia dan Bangalter telah menghabiskan jam-jam tak terhitung untuk mengutak-atik synthesizer demi mencari bunyi-bunyi baru, dia mengangkat bahunya dengan pasrah: “Lagipula kami selalu ada dalam kegelapan.”
Bangalter mengambil kunci dari saku dan membuka ruangannya–di sini, pada April 2008 setelah tur dunia, Daft Punk bersembunyi untuk menciptakan lagu-lagu album keempat mereka, Random Access Memories. Di tur, mereka mengubah amfiteater, lapangan bisbol dan stadion sepak bola menjadi pesta rave penuh euforia, dengan mengendalikan supercomputer khusus dari dalam piramida aluminium setinggi 7 meter yang dilapisi layar-layar di tengah-tengah sinar-sinar LED.
Nama Daft Punk pertama kali melejit dalam ledakan elektronik di tahun ’90-an, tapi tur itu – pertunjukan pop yang revolusioner – membuat mereka jauh lebih populer, dan mengubah mereka dari sisa tren pudar menjadi pionir tak sengaja dari kegilaan akan musik dansa yang telah menaklukkan dunia pop. Artis lain dalam posisi serupa mungkin akan bermain aman – bermain di tempat-tempat yang makin besar dan sold out, dan memainkan musik menghentak yang sama – tapi Daft Punk mengakhiri turnya setelah 48 konser, dan ketika mereka mulai menggarap materi baru, mereka ingin merombak diri sendiri.
“Musik elektronik saat ini ada di zona nyaman, dan tidak bergerak sama sekali,” kata Bangalter. “Seharusnya bukan itu yang dilakukan seniman.”
Bertubuh tinggi dan ceking, Bangalter, 38 tahun, sedang memakai sweater abu-abu dan skinny jeans dengan lubang di lutut yang cukup besar untuk dilewati bola tenis. Wajahnya lonjong dan berjenggot, dengan rambut ikal coklat membentuk Jewfro kecil. (Ayah Bangalter, seorang artis dan produser disko era ’70-an dengan nama panggung Daniel Vangarde, berdarah Yahudi, tapi rumah tangga Bangalter tidak religius.)
Saat Bangalter sedang santai, matanya berbinar dan bahasa tubuhnya menghangat: Dia akan bersandar mendekat, dan mencolek kita dengan ramah untuk menegaskan maksudnya. Namun kadang-kadang, saat orang lain sedang bicara, hidungnya mengernyit seperti tak senang, seolah-olah mencium bau busuk. Michel Gondry, yang kenal Daft Punk sejak mereka menyewanya untuk menyutradarai video untuk hit “Around the World” di tahun 1997, berkata bahwa Bangalter punya sifat kritis dan lugas yang dapat mengejutkan.
“Kami pernah ada di sebuah kedai kopi di Paris, dan dia berkata bahwa dia benci film pertama saya,” kata Gondry sambil tertawa. “Dia merasa itu kurang hidup, dibuat-buat! Sangat kasar, bukan? Beberapa orang memang berbicara apa adanya.”
De Homem-Christo, 39 tahun, berwajah lebar dan halus, dengan bulu wajah kasar pada pipinya dan rambut coklat panjang. Sewaktu remaja, rambutnya berminyak dan acak-acakan, dan dia sering terlihat memakai mantel bulu serta membawa barang-barangnya dalam kantong belanja plastik. Laurent Brancowitz, gitaris Phoenix yang pertama kenal duo itu di tahun 1992, berkata bahwa dulu de Homem-Christo mirip “perempuan” dan “pecandu”, tapi kini penampilannya lebih bersih walau berantakan: jaket kulit coklat, motorcycle boots lusuh, kalung tulang garpu kecil di atas sweatshirt bahan velour hitam. Dia kurang suka kontak mata, dan berbicara jauh lebih sedikit dibanding Bangalter.
“Guy-Man tak banyak bicara,” kata Daniel Dauxerre, yang dulu bekerja di New Rose, sebuah toko musik di Paris tempat Daft Punk mencari piringan hitam Augustus Pablo dan The Beach Boys ketika masih remaja. “Saat dia bicara, selera humornya sangat sarkastis – mungkin dia mengolok kita, kita tak pernah tahu pasti.”
Daft Punk adalah superstar paling misterius dalam pop. Selain menyembunyikan wajah saat tampil di konser, video dan foto, mereka bekerja secara rahasia dan sangat menjaga detail-detail biografis dalam kesempatan wawancara yang langka. Jadi orang luar akan memasuki tempat kerja mereka dengan penuh takjub, barang-barang biasa pun terkesan penuh makna.
Di ruang synthesizer, terdapat piringan hitam Blondes Have More Fun-nya Rod Stewart di satu sudut denganboombox JVC kecil di dekatnya untuk mendengar rough mix, dengan piramida plastik hitam di atasnya. Blu-rayTron: L’Heritage (Tron: Legacy, yang musiknya digubah oleh Daft Punk) dan Star Wars: L’Integrale de la Saga berada di rak di dekat buku desain-desain Saul Bass, Walker’s Rhyming Dictionary dan buku dari seri Life Science Library dengan judul The Mind.
Pada tembok terdapat foto robot-robot Daft Punk berdiri bersama R2-D2 dan C-3PO dalam pemotretan iklan Adidas. “Inilah momen saat saya merasa kami benar-benar memasuki budaya populer,” kata Bangalter.
Dia menuju daya tarik utama kamar itu: sebuah modular synthesizer raksasa yang tingginya sekitar 1,2 meter dan lebarnya 1,8 meter. “Ini adalah sistem khusus, baru dan dibuat untuk kami oleh orang di Kanada,” katanya. Di dalam empat peti kayu seukuran pencuci piring terdapat lusinan osilator, noise generator danenvelope follower; di atasnya terdapat Borg filter, Boogie filter, step seqeuencer dan osiloskop kuno. Lampu-lampu berkelip, tombol-tombol perak dan 933 kenop muncul dari balik kabel-kabel merah, abu-abu dan kuning.
“Dengan synthesizer seperti ini, ada begitu banyak elemen yang mempengaruhi suaranya, dari suhu ruangan hingga kapasitor – ribuan parameter kecil yang kacau,” kata Bangalter dengan bangga. “Ini kebalikan dari lingkungan steril sebuah komputer.” Dia mendengar kabar bahwa produser asal Kanada, Deadmau5, mengetahui tentang sistem itu, mengontak pembuatnya dan “memesan yang sama persis.”
Tapi saat Bangalter menyebut sterilnya musik komputer dengan sinis, dia mengacu kepada penerus-penerus Daft Punk: para idola musik dansa yang mengambil alih mainstream, yang semuanya menggilai Daft Punk. David Guetta memutar lagu-lagu mereka di Ibiza dan menyebut album debut mereka, Homework (1997), sebagai “sebuah revolusi”. Avicii menyebut perkenalannya kepada musik elektronik dengan “mendengar banyak Daft Punk sebelum saya tahu house music itu apa.” Ide helm Deadmau5 berasal dari mereka. Skrillex mengaku bahwa menyaksikan piramida Daft Punk “mengubah hidup saya.” Swedish House Mafia menyatakan “Daft Punk idola kami dalam semua hal.”
Walau banyak dicintai, Bangalter dan de Homem-Christo merasa sangat ambivalen terhadap penerus mereka, dengan musik yang menghantam dan bass drop berat yang dapat ditebak. “Kini, musik elektronik seperti minuman energi dalam bentuk audio,” kata Bangalter. “Para artis menyodorkan musik yang agresif, energetik dan menstimulasi berlebihan – rasanya seperti sedang digoyang-goyang orang. Tapi musik mereka tidak menggerakkan orang-orang secara emosional. Itu bisa membuat merasa hidup, tapi...”
“Tidak dalam, hanya di permukaan,” kata de Homem-Christo.
“Mungkin itu bedanya cinta dan seks, erotisme dan pornografi,” kata Bangalter.
Saat Daft Punk di tengah-tengah pembuatan album barunya, mereka ingin membuang kebiasaan lama dan bekerja “dari nol,” kata Bangalter. Tiba-tiba mereka merasa bahwa teknik mengambil sample dari piringan hitam funk, disko dan soft rock sudah menjadi rutinitas. Drum machine yang dulu digunakan sebagai fondasi lagu sudah terdengar mekanis – “autopilot,” kata Bangalter.
Mereka buat rencana baru yang akan membawa Daft Punk semakin menjauh dari musik elektronik: “Kami ingin lakukan apa yang dulu dilakukan dengan mesin dan sampler,” kata Bangalter, “tapi dengan manusia.”
Idenya adalah merombak musik mereka tapi tetap mempertahankan esensinya, sekaligus melampaui para penerus mereka. “Dalam musik elektronik sekarang, ada krisis identitas,” kata Bangalter.
“Kita mendengar lagu: Itu lagu siapa? Tak ada ciri khas. Semua orang membuat musik elektronik dengan peralatan dan cetak biru yang sama. Saat mendengarnya, kita merasa itu bisa dibuat pada iPad.” Dia cemberut. “Jika semua orang tahu triknya, tak ada sulap lagi.”
Kisah selengkapnya baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 99, Juli 2013.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar