Rabu, 31 Juli 2013

[H-um] Kembali ke Blues, Kembali Pulang!

Oleh : 
FarizRM | rollingstones.co.id – 15/07/13



Jakarta
 - Sekitar tiga tahun silam, ketika mempersiapkan rencana produksi album rekaman saya, Fenomena, saya dan Erwin Gutawa – sahabat bermusik yang berperan sebagai produser – saling bertukar pikiran, mencoba mengolah gagasan tentang arah dan alur warna musik yang akan kami pilih untuk menjadi benang merah presentasi musik album tersebut.

Tentu saja sebagai pemusik yang sangat mengenal pribadi saya, Erwin paham betul bahwa latar presentasi karya musik saya sangat berakar pada blues, bukan jazz seperti pendapat banyak orang. Namun ketika itu juga, Erwin mengungkapkan keraguannya bahwa blues yang amat ekspresif – sehingga presentasinya akan dominan terasa bebas dan improvisatif – akan mampu ‘nyambung’ dengan telinga khalayak pencinta musik di tanah air.

Saya sangat memahami pandangan Erwin, dan jujur saja, itu pula yang saya pikirkan dulu di awal karier – sehingga memaksa saya putar otak untuk mewujudkan impian gejolak ritme soulful groove, progress ‘chordal tujuh’ yang bluesy dan rasa bebas yang saya ‘kultus’-kan itu bisa tertuang lewat karya-karya musik di ‘kolam industri musik pop’ nasional.

Itu sebabnya saya akhirnya merasa cukup nyaman berenang di wilayah pop progresif, karena setidaknya bagai memiliki legalitas yang sah untuk menyertakan dan meramu aneka asupan warna musik tak terbatas. Satu bentuk kebebasan lumayan terpenuhi.

Namun kurang lebih dua bulan belakangan ini kenyamanan yang nyaris meninabobokan saya lebih dari 35 tahun tiba-tiba berakhir dan saya bagai bangun tidur karena disiram air es! Dan bukan karena disiram oleh mereka yang lebih tua dan pantas menyiram demi mendidik kemalasan saya yang terlena, tetapi disiram oleh tiga orang pemusik yang jauh lebih muda dan berselisih umur lebih dari 25 tahun dengan saya! Ajaibnya, bukan merasa terusik, tapi saya sangat berterima kasih serta akhirnya malah ketagihan minta diajak bengal.

Saya sempat pasrah dan tahu diri bahwa core musik saya bukan jenis musik yang akan disetujui oleh para produser acara televisi yang lebih percaya bahwa banyaknya pemirsa yang menyaksikan tayangan acara televisi lebih penting daripada kadar intelektual pemirsa yang berarti; nonton tapi tidak mengerti lebih bagus dibanding nonton untuk mampu mengerti pesan dan misi tayangan.

Alhamdulillah, perubahan kali ini membuat saya lega. Tiga pemuda bengal yang berani menyiram seniornya kini memiliki identitas yang mulai marak jadi omongan di kalangan pemusik dan produser, umumnya di kolam renang indie nasional, sebagai: Ginda & The White Flowers.

Memang, industri musik independen lebih banyak melahirkan produk-produk karya musik nasional unik serta kreatif dan terbukti lebih sering berkiprah sebagai pahlawan tak dikenal dan tak perlu didukung pemerintah, membawa keharuman gambaran positif Indonesia melalui berbagai ajang pentas di mancanegara lewat jatuh bangun upaya sendiri dengan dukungan pihak-pihak yang percaya akan kapasitas serta misi mereka.

Bukan karena putus asa, tetapi karena begitu seringnya jadi penggemar blues yang dikecewakan janji membuat saya setengah acuh kalau mendengar ada pemusik tanah air yang mengaku memancang flagshipsebagai pemusik blues sejati. Dan umumnya memang berhasil juga sedikit membuat kita menoleh, sebelum akhirnya sadar bahwa: “Oh, cuma seorang peniru Hendrix dan Stevie Ray...”

Banyak pemusik lupa, bukan kehebatan keahlian teknis musik yang akan membuat pemusik dikenal, namun karakteristik gaya tersendiri yang lahir dari kejujuranlah yang akan membawa seorang pemusik pantas ditoreh dalam sejarah dan kelak akan mampu menginspirasi kehidupan banyak orang. Dan ingat, inspirasi tak dapat direkayasa.

Sering kita menyimpulkan, ketika sebuah grup musik memiliki identitas – seperti Ginda & The White Flowers – langsung sebentuk pemahaman awal terlintas di pikiran: ini pasti si Ginda tokoh utama dan yang lain adalah pemusik pengiringnya. Ini tidak benar!

Justru dalam formasi trio ini saya temukan penyatuan karakteristik yang luar biasa dari berbagai unsur pengaruh! Gegah sebagai bassist dengan background fusion dan rock yang dibesarkan di wilayah rutinitas pemusik kafe bahkan mampu meninggalkan kepatuhan a la pemusik kafe dan memutuskan untuk berani mengakomodir berbagai scale tanpa memaksa, sehingga kredo blues yang sering dianggap tiga jurus terasa lapang, membuat rekan-rekan dalam grup ini seperti anak kecil dilepas di arena wahana Dunia Fantasi.

Drummer belia yang luar biasa dan menjadi tiang penyangga utama grup ini sudah lama menjadi perhatian saya. Yandi, yang bahkan belum masuk kriteria remaja ting-ting karena belum berusia 17 tahun, sudah cukup memungkinkan saya berhak membisikkan kata-kata: “Sebaiknya boleh mulai pikir-pikir untuk merencanakan pensiun dini” kepada banyak drummer senior kita.

Dengan penguasaan akurasi dan dinamika yang nyaris sudah tak lagi perlu direncanakan, sel-sel kelabu di otak Yandi seperti bisa secara otomatis memerintahkan berbagai teknik pukulan bagai pindah pencet tombol!

Banyak pemusik belia mempresentasikan teknik mencengangkan, tetapi amat jarang usia belia mampu membawa kesan usia dewasa yang berpengalaman.

Seperti saya teringat ketika Indra Lesmana yang masih berusia 12 tahun mampu berekspresi dan dengan dewasa bermain layaknya Bubi Chen. Itu pula kesan saya terhadap Yandi ketika melihat ketenangan dingin yang menyimpan penguasaan kontrol emosi yang bahkan justru menjadikan presentasi blues, funk dan rock yang soulful dari Ginda & The White Flowers solid dan berkarakter, serta menjadikan kelahiran sebuah identitas yang akan sangat sulit terulang.

Saya juga tidak bisa memberikan penjelasan secara pasti: mengapa begitu sulit mencari seorang gitaris yang tak memiliki kecenderungan ambisi pemimpin dalam gaya permainannya. Apa karena mungkin kalau jadi pemain gitar tapi tidak bisa main solo sudah pasti tidak tenar?

Dan ini adalah hal paling menarik dari Ginda. Dia adalah salah satu pemusik generasi muda blues di ranah liar gitaris yang rata-rata berambut panjang. Ginda berambut pendek, nyantun Nyunda bawaan pemuda Sukabumi. Tapi tunggu sampai kita lihat Ginda menyandang Blue Strat Axe-nya.

Rasa terkejut kedua segera menyergap kita, karena Ginda tak langsung nge-lead meraung-raung layaknya pamer a la banyak lead gitaris, tetapi dari amplinya justru menyeruak kerenyahan chunky khas southern white funk. Walaupun terasa kita seperti terbawa lorong waktu ke masa-masa Tommy Bolin dan James Gang, tak satupun scale tiruan kita temui di permainan Ginda.

Saat tampil, Ginda & The White Flowers sering melakukan tribute. Selain sebagai penghormatan atas karya dan pemusik besar yang menginspirasi mereka, juga sebagai semacam penegasan untuk diketahui bahwa Ginda dan teman-teman bukan band cover version, karena mereka membawakannya dalam bentuk dan cara senyaman yang mereka inginkan.

Bisa dilihat “Crosstown Traffic”-nya Hendrix hingga “Superstition” milik Stevie Wonder tampil utuh sebagai versi khas Ginda dan kawan-kawan. Begitu pula saat membawakan “Suzie Bhelel”, lagu populer saya di tahun 1988, karya Dorie Kalmas, Sekar Ayu Asmara dan saya, yang aslinya sarat orientasi blues tiga jurus berformat 60’s jive beraroma Elvis Presley dan kami representasikan dalam leburan speed funky modern.

Saya memakai istilah leburan, karena pukulan Yandi beraroma soul, mengingatkan gaya yang jadi bandrolan David Garibaldi (drummer Tower Of Power) di pertengahan ‘70-an dan Gegah mengisinya lewat finger moving1/16, seperti diperkenalkan permainan sang penjahat bas legendaris Jaco Pastorius.

Gegah juga memanfaatkan mute dan harmonic dalam menempatkan jeda-jeda ketukan, menjadikan posisi Ginda bagai merangkap peran ganda: gitaris tapi juga perkusionis, yang memposisikan rhythmic riff-nya sebagaicounter.

Dalam album perdana Let Me Try, lengkap sudah Ginda, Gegah dan Yandi melakukan introduksi fondasi identitas. Dibuka dengan “Tahan Dulu” yang membawa saya nostalgia ke zaman pesta disko malam minggu era ’70-an, sering disebut dengan istilah Pesta Anjing Air karena tidak jelas yang punya pesta disko itu siapa, pesta di rumah siapa, yang datang siapa, atau pesta merayakan apa.

Satu-satunya hal yang pasti: Pesta tersebut pasti di malam minggu dan dua hal yang paling dicari di pesta seperti itu adalah mabuk dan cari pasangan! Bengal!

Lagu favorit saya di album ini adalah “Always on My Mind,” membuat saya semakin punya niat melamar jadi keyboard player tetap mereka. Sayangnya saya tahu diri.

Saat pentas di Airman Lounge pada 5 April lalu, bekerja sama dengan nxstream.com, Ginda & The White Flowers melakukan terobosan penyiaran Direct RealTime Livestreaming audiovisual konser 150 menit mereka yang bertajuk Blues Experience ke seluruh pengguna Internet di seluruh dunia pada saat yang sama.

Fondasi telah dibeton, tiang pancang sudah disangga. Usia produktif nan merentang panjang mestinya menjadi hal yang mesti disikapi dengan lebih bijaksana. Periode waktu yang menempa harus dipahami sebagai rentang proses, hal yang penting dan utama dalam menyikapi anugerah dan karunia Tuhan. Dari tahap proses tersebut, seorang manusia mampu menemukan, mengenal dan menghargai karakter jati dirinya.

Bagi saya, pengalaman menemukan kembali lingkungan rumah masa muda bermusik saya, blues, seperti kembali pulang. Mungkin seperti seorang ayah yang bahagia melihat anak dan cucu bermain ramai berceloteh di pekarangan rumah, begitu pula perasaan hati saya saat bertukar mood dan ekspresi bersama Ginda & The White Flowers. Lega rasanya bisa mencapai cita-cita kecil saat ingin jadi pemusik, mimpi menyanyikan masterpiece Led Zeppelin, “Whole Lotta Love”, dengan gejolak gagasan dan cara kami sendiri.

Senin, 29 Juli 2013

[S-um] Dengan Menabung Anak Bisa Belajar Menahan Emosi




Oleh : Ashrini Shabiani TS Annisa | detikHealth – 24/07/13

Jakarta - Seringkali para ibu kewalahan menghadapi anak yang menangis atau marah karena keinginannya tidak terpenuhi. Bahkan akhirnya para ibu menyerah dengan langsung menuruti keinginan sang anak. Tapi ternyata dengan mengajarkan anak untuk menabung mampu membuat anak menahan emosinya lho.

"Kalau anaknya mudah emosi karena keinginannya tidak terpenuhi ya gampang saja, ajarkan si anak menabung. Ajarkan dia kalau dia ingin sesuatu ya nabung. Dari situ dia belajar untuk menahan diri," ujar psikolog Ratih Ibrahim. 

Hal tersebut ia sampaikan pada talkshow 'Menabung Sejak Dini Dukung Pendidikan Karakter Anak' di Gedung SME Tower, Jakarta Selatan, Rabu (24/7/2013).

Selain dengan menabung, Ratih juga mengatakan bahwa saat orang tua ingin merubah perilaku anaknya yang tidak dapat menahan diri, orang tua haruslah tegas serta tau apa tujuan merubah perilaku sang anak. Setelah itu barulah jelaskan kepada anak agar si anak paham, kemudian masuk ke dalam perilaku dirinya yang lebih spesifik.

"Jika anak ingin pergi ke mall, saat sebelum kesana dibicarakan dulu, bolehnya apa, janjian dulu. Seperti, boleh belanja tapi hitung dari kiri ke kanan ada berapa angkanya. Misalnya angkanya boleh 6 tapi angka yang paling depan hanya boleh 1, atau jumlah angkanya hanya boleh 5," kata Ratih.

Ratih menambahkan, "Kalau sampai anaknya sampai disana ada yang dia mau tapi nggak sesuai perjanjian. Biarin saja, kalau dia marah, ngambek ya biarin aja. Tidak usah marah, tidak usah dibentak, konsisten saja. Dengan begitu anak jadi belajar dalam hal apa orang tua bisa di nego, dalam hal apa yang tidak."

Mengenai sejak kapan orang tua dapat menerapkan hal ini, Ratih mengatakan bahwa hal ini dapat diterapkan mulai dari si anak masih kecil atau bisa berjalan. Lalu setelah anak berusia 5 atau 6 tahun, orang tua dapat mulai mengajarkan anak untuk mengelola keuangannya untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Sehingga sang anak lebih dapat menahan dirinya lagi.

Jumat, 26 Juli 2013

[E-um] Hindari Perkataan Ini Kepada Bawahan Anda

Oleh : Dona Rema | wolipop 

Jakarta - Tak semua bos di kantor memiliki hubungan yang baik kepada bawahannya. Hubungan antara bos dan karyawan juga bisa buruk. Namun itu semua tergantung bagaimana sikap atasan dalam menjalankan aturannya.

Di beberapa perusahaan, bos merasa memiliki kebebasan untuk mengatakan apa pun kepada pekerjanya. Padahal, perilaku buruk yang dilakukan atasan justru merusak produktivitas karyawan. 

Tak hanya itu saja, hal ini juga membuat perusahaan tidak dapat mencapai target. Dikutip dari situs Boldsky, berikut ini beberapa perkataan yang harus dihindari atasan kepada karyawannya.

1. Maaf, saya tidak bisa membantu
Ketika karyawan tidak dapat mengendalikan situasi tertentu, mereka berharap besar untuk bisa mendikusikannya dengan atasan di kantor. Namun yang perlu diingat, sebagai bos jangan pernah mengatakan 'Maaf, saya tidak bisa membantu' atau 'Tidak bisa berbuat apa-apa'.

2. Anda lebih baik daripada saya
Sebagai bos, tentu saja boleh memuji hasil kerja karyawan yang baik. Namun hindari perkataan 'Anda lebih baik daripada saya'. Mengatakan kalimat semacam ini di depannya menunjukkan kepadanya bahwa Anda adalah bos yang tidak kompeten sebagai pemimpin.

3. Saya membayar Anda, jadi lakukan seperti apa yang saya perintah
Hindari perkataan di atas. Meskipun Anda yang membayar karyawan, namun bukan berarti bawahan Anda menjadi budak. Ini hanya akan menurunkan produktivitas karyawan dan membuat mereka tidak betah bekerja di kantor.

4. Jangan bicarakan itu dengan saya
Sebagai karyawan tentunya mereka akan menanyakan tentang isu atau informasi mengenai pekerjaan kepada bos mereka. Oleh karena itu, atasan harus bisa menawarkan solusi dan mengamati apakah masalah tersebut telah diselesaikan atau belum. Jadi jangan sampai bersikap tidak peduli.

5. Menceritakan masalah pribadi
Berkomunikasi dengan bawahan memang dianjurkan. Hal ini juga bisa menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Namun jangan sampai Anda malah menceritakan masalah pribadi kepada karyawan agar hubungan kerja Anda tetap obyektif. 


(rma/rma)

Rabu, 24 Juli 2013

[H-um] Metallica Mulai Garap Album Baru 2014

Oleh : Fakhmi Kurniawan | detikHot – 22/07/13

Jakarta - Kabar bahagia bagi penggemar grup band Metallica di seluruh dunia. Mereka rencananya bersiap kembali menelurkan album terbaru pada 2014 mendatang. 

Hal itu disampaikan oleh sang drumer, Lars Ulrich seperti dilansir NME, Senin (22/7/2013). Lars pun mengaku sudah tak sabar untuk masuk dapur rekaman. 

"Kita sudah tak ada alasan lagi untuk menunda lagi. Metallica akan masuk rekaman album 2014!" ujarnya.

Tentunya album terbaru grup band pelantun 'One' itu sudah dinantikan penggemarnya di dunia. Mereka terakhir menelurkan album pada 2008 yang diberi judul 'Death Magnetic'.

Sepanjang karier, Metallica telah merilis sembilan album. Mereka juga rencananya akan tampil di Indonesia pada 25 Agustus mendatang.

(fk/mmu)


Senin, 22 Juli 2013

[S-um] Siapa Bilang Menabung Itu Sulit ?


Oleh : TRIBUNnews – 12/07/11

TRIBUNNEWS.COM - Anda mempunyai gaji yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun pernahkah Anda memikirkan untuk menyisihkan barang beberapa persen saja untuk menabung?

Memang sangat sulit untuk membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung sebagai investasi masa depan.

Nah, Freddy Pieloor, CFP, financial planner memiliki beberapa tips bagaimana mengatur pengeluaran sehingga dapat menyisihkan sedikit untuk tabungan.

Menurut Freddy, satu hal penting dalam mempersiapkan masa depan dengan berinvestasi adalah melakukannya di depan.

"Jadi, apabila Anda mendapat penghasilan (gaji) sebesar 100 persen, Anda langsung sisihkan minimum 20 persen terlebih dahulu untuk investasi. Sisanya sebesar 80 persen dapat Anda gunakan untuk membayar semua kebutuhan hidup, termasuk kartu kredit dan gaya hidup," jelas Freddy.

Hal penting lain, kata Freddy adalah tidak menggunakan kartu kredit (terlebih untuk berutang dan membeli barang konsumtif) jika tidak memiliki dana sekarang untuk membayar lunas saat tagihannya tiba.

Namun, apabila saat ini Anda masih memiliki sejumlah utang, lunasilah terlebih dahulu utang-utang tersebut (terutama utang yang berbunga tinggi) sebelum Anda memulai untuk berinvestasi.

"Ingat selalu "spedometer" yang ada di panel dasbor mobil, di mana pengemudi harus mengendarai mobil tersebut tidak melebihi batas kecepatan yang diperkenankan. Misalnya di spedometer tertulis 200 km/jam, pengemudi hanya boleh mencapai tingkat kecepatan 160 km/jam (80 persen)," ungkapnya.


Demikian halnya dengan seorang karyawan, kata Freddy, sebaiknya mengendarai kehidupannya dengan berbelanja tidak melebihi batas kecepatan (penghasilan) yang ada.

Jumat, 19 Juli 2013

[E-um] Awas, Jangan Salah Ambil Keputusan

Oleh : IZ | kabar24 – 03/02/12

”Orang yang tidak bisa merefleksikan diri mereka akan berakhir dengan membuat keputusan yang buruk karena mereka tidak benar-benar mengetahui apa yang mereka inginkan sebagai prioritas.”

Pendapat David Welch, profesor ilmu politik dari University of Waterloo, Ontario, Kanada sekaligus pengarang buku Decisions, Decisions: The Art of Effective Decision Making itu layak menjadi renungan.

Setiap hari kita bergumul dengan proses pembuatan keputusan, mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks. Keputusan yang sederhana, sebagai contoh, memilih warna busana yang akan kita pakai untuk bekerja hari ini. Adapun keputusan yang kompleks dapat juga terjadi ketika menentukan sekolah apa yang akan dituju, memilih pasangan hidup atau bahkan membeli rumah.

Welch mengajukan sebuah pancingan menarik. “Sebelum menginginkan sebuah pekerjaan yang baru, tanya diri Anda, apakah saya benar-benar menginginkan karir yang berbeda? Atau apakah saya menginginkan atasan yang berbeda? Janganlah membuat keputusan berdasarkan hanya pada persoalan yang keliru.”

Dari sekian banyak literatur dan pemikiran pakar manajemen soal pengambilan keputusan yang tepat, hal yang bisa dikatakan paling mendasar adalah bahwa seseorang harus membuat sebuah daftar pilihan yang sesuai dengan kebutuhan.

Misalnya, bila Anda menginginkan untuk membeli sebuah kamera digital, buatlah catatan mengenai fasilitas apa saja yang akan digunakan dari kamera itu. Semua kamera yang sesuai dengan standar merupakan pilihan yang baik untuk tujuan tersebut. Alhasil, Anda dapat mengabaikan hal-hal yang hanya demi kesenangan.

Namun harap diingat, orang sering membuat keputusan yang buruk ketika mereka sedang mengalami stres. Ketika dihadapkan dengan pembuatan keputusan yang kompleks, gunakan otak untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dan sediakan waktu khusus untuk beristirahat.

Bahkan para pakar menganjurkan untuk melakukan suatu kegiatan meski hal itu sebatas berjalan kaki. Tidak ada salahnya pula melakukan semacam meditasi singat selama setengah jam, tidur sebentar atau mencoba menikmati minuman ringan.Tujuannya, memberikan pikiran agar semakin awas untuk bekerja. 

Pilihan yang Anda buat setelah melakukan hal itu biasanya akan menjadi keputusan yang baik atau setidaknya masih bisa diterima.

Pertimbangan lainnya yang perlu dikaji adalah mengurangi pilihan dengan menciptakan aturan bagi diri Anda sendiri. Dalam kaitan itu, jurus yang lazim direkomendasikan adalah membuat jadwal layaknya seseorang ingin pergi beryoga setiap pekan.

Pada intinya, sekali keputusan dibuat, tanya diri Anda bagaimana perasaan Anda setelahnya dan pengalaman apa yang dapat Anda peroleh.

Menurut teori klasik, pengambilan keputusan haruslah bersifat rasional. Keputusan diambil dalam situasi yang serba pasti. Pengambil keputusan harus memiliki informasi sepenuhnya dan menguasai persoalan.

Pemikiran ini mendasarkan diri pada asumsi dari orang yang mempunyai pikiran  ekonomi rasional untuk mendapatkan hasil atau manfaat maksimal. Artinya, segala sesuatu mengarah pada sebuah kepastian.

Lalu muncul pertanyaanm bukankah pengambilan keputusan harus berorientasi pada apa yang seharusnya dilakukan, bukan pada apa yang seseorang ingin lakukan. Lagi pula, manusia tidak selalu serba mengetahui dengan pasti. Artinya, ada hal-hal yang belum diketahui dengan pasti.

Pendekatan lainnya atau yang lazim disebut teori perilaku menekankan pada keterbatasan kemampuan pimpinan untuk berpikir rasional penuh dalam menangani masalah. Dari informasi yang ada dan beberapa alternatif yang tersedia atau disediakan oleh unit pengolah data maka apabila pimpinan telah merasa puas dengan salah satu alternatif pemecahan masalah, maka alternatif itulah yang dipakainya.

Secara umum keputusan dapat dibedakan dalam keputusan yang sederhana dan keputusan yang kompleks. Namun dilihat dari aspek tingkatannya, dapat dipilah lagi menjadi tiga bagian seperti yang dikemukakan Irwin D. Bross. 

Pertama, keputusan otomatis, kedua, keputusan memori, dan ketiga, keputusan kognitif.

Salah satu tugas terpenting seorang pemimpin adalah untuk menentukan yang terbaik bagi organisasi dan para anggotanya. Namun dalam mengambil keputusan, terkadang pemimpin pun menghadapi dilema dan seolah berada di persimpangan jalan.

Apalagi jika pilihan yang ada membuat mereka harus mengorbankan kepentingan orang lain atau memberikan resiko yang akan merugikan tim. Namun kadangkala keputusan sulit harus diambil demi terwujudnya cita-cita bersama.

Adakalanya pemimpin ternyata mengambil keputusan yang salah dan merugikan organisasi. Namun, percayalah melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan masih lebih baik dibandingkan tidak melakukan tindakan apapun sama sekali.

Kecepatan dan ketepatan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan lazimnya menjadi tolak ukur kompetensi dan kredibilitas yang dimilikinya. Jika pemimpin lamban dan ragu-ragu dalam bertindak, anak buah akan melihat Anda sebagai orang yang indecisive, takut, dan tidak tegas sehingga membuat mereka mempertanyakan kemampuan pemimpin, bahkan kehilangan kepercayaan terhadap mereka.

Terbiasa cepat dalam pengambilan keputusan memang bukan pekerjaan mudah, butuh rasio yang jernih dan intuisi yang tajam agar bisa menghasilkan keputusan yang tepat. Namun bukan berarti kemampuan tersebut tidak bisa diasah dan dipertajam.(iz)

Rabu, 17 Juli 2013

[H-um] Avenged Sevenfold Merindukan Mendiang Drummer The Rev

Oleh  : Jovie Yordan | rollingstones.co.id – 15/07/13

Los Angeles - Band metal asal AS, Avenged Sevenfold akan merilis album Hail To The King pada 27 Agustus mendatang. Album ini kembali diproduseri Mike Elizondo dan menjadi pertama kalinya tanpa drummer dan penulis lagu, James “The Rev” Sullivan, yang wafat pada Desember 2009. Sullivan telah digantikan oleh mantan drummer Confide, Arin Ilejay.

Vokalis Avenged Sevenfold, M. Shadows mengatakan kepada majalah Kerrang! mengenai album ke-6 yang untuk pertama kalinya dikerjakan tanpa Sullivan.

(Di masa lalu dalam pengerjaan album), kami sampai ke titik dimana kami telah menulis 6 atau 7 lagu dan kami benar-benar merasa telah habis. Saat itulah, dia (The Rev) akan selalu datang dengan 3 atau 4 lagu bagus, dan itu sangat cukup untuk melengkapi album,” ujar Shadows.

Ia membawa pengaruh yang berbeda dan seorang metalhead seumur hidup. Ia akan selalu menulis lagu dengan gaya apa saja yang kami cari. Jadi, ketika kami harus merekam 6 atau 7 lagu untuk album ini, kami benar-benar merindukannya. Kami sangat berharap Jimmy ada di sini untuk menyelesaikan album. Tapi itu tidak terjadi, jadi kami harus menggunakan waktu kami (lebih banyak),” kenang Shadows seperti dilansirBlabbermouth.

Sementara ketika ditanya mengenai musik dari album ini, Shadows menjelaskan, ”Kami ingin menulis album yang sangat dipengaruhi oleh album-album 90an dan 80an ketika kami tumbuh. Jadi, kami kembali jauh ke belakang dan dipengaruhi oleh Black Sabbath dan Led Zeppelin.

Kami mempelajari album-album itu, melihat apa yang telah mereka kerjakan dan bagaimana mereka mengerjakannya, Kami hanya mencari album yang berbeda dari sebelumnya.”

Album ini akan mengejutkan orang-orang, karena drum (pada album ini) sangat berbeda dari yang pernah kita buat sebelumnya,” pungkas Shadows.

Senin, 15 Juli 2013

[S-um] Cara Efektif Ajarkan Menabung Ke Anak Sejak Kecil

Oleh : Fakhmi Kurniawan | detikHot – 22/07/13

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menanamkan suatu perilaku pada anak lebih baik dilakukan sejak dini. Termasuk perilaku menabung. Tetapi mengajari anak menabung harus disesuaikan dengan umur.

Seperti yang dipaparkan Ratih Pramanik, Psikolog dan Business Development Manager dari Personal Growth, mengajari menabung pada anak berusia satu tahun lebih kepada objek yang sama. Misalnya turun tangga atau bola-bola tangan sambil bernyanyi (yang ada unsur angka).

Pada usia 2 - 3 tahun, orangtua dapat mengenalkan angka, melalui gambar, DVD, atau di tablet sambil bermain. Usia 3 - 4 tahun, mereka sudah berpikir konkrit. Jadi jika ada uang tergeletak, kita ajarkan untuk menabung di celengan.

Saat menginjak usia 5 tahun, anak sudah bisa membeli barang yang diinginkan, orangtua mengenalkan berapa harga barangnya, berapa rupiah yang harus dikeluarkan, dan uang merupakan alat transaksi jual-beli.


"Usia tujuh tahun, anak sudah berpikir abstrak, jadi bisa diajari tentang pengelolaan keuangan," jelas Ratih.

Jumat, 12 Juli 2013

[E-Um] Awas, Kelamaan Duduk Di kantor Bikin Gemuk Dan Penyakitan

Oleh  Erninta Afryani Sinulingga | detikHealth – 27/03/13

Jakarta, Deadline, rapat bergilir, bahkan mengerjakan setumpuk pekerjaan hingga lembur membuat karyawan seringkali terlalu lama duduk. Biasanya karena terlalu lama duduk, karyawan akan mengeluh sakit pinggang.

Terlalu lama duduk memang dapat menyebabkan banyak penyakit. Karena itu meski di kantor banyak duduk, harus diimbangi dengan kegiatan olahraga.

"Orang yang banyak duduk tapi juga punya aktivitas olahraga yang baik dan mengatur makanan dan atau mereka yang memiliki faktor genetik langsing, tidak mengalami kegemukan karena 'banyak' duduk. Akan tetapi kalau hampir tidak aktif bergerak selain duduk, apalagi diikuti kebiasaan makan junk food, maka kemungkinan kegemukan tentu ada," ujar praktisi gaya hidup sehat, dr Phaidon L Toruan MM yang dalam perbincangan dengan detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (27/3/2013).

Dari penelitian yang sudah ada dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan duduk dalam waktu lama dengan sejumlah masalah kesehatan, seperti kegemukan dan kelainan metabolik. Hal itu dikenal dengan 'metabolic syndrome'. Metabolic syndrome merupakan sekumpulan kondisi gangguan kesehatan termasuk tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kelebihan lemak di sekitar pinggang dan kadar kolesterol yang tidak normal. 

Dr Phaidon juga menjelaskan walaupun punya kebiasaan olahraga beberapa jam dalam seminggu, tidak secara signifikan akan menurunkan risiko. "Solusinya adalah mengurangi jumlah jam duduk, dan lebih banyak bergerak," sambungnya.

Saat bergerak, otot akan aktif memicu proses yang berhubungan dengan pemecahan lemak dan gula di dalam tubuh. Sedangkan ketika duduk, proses ini seperti terhenti. Ketika seseorang berdiri, proses ini berlangsung kembali. Karena itu berjalan-jalan dan beranjak sebentar dari kursi dapat menjadi salah satu pilihan untuk bergerak di kantor.

Senada dengan hal itu, dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH menuturkan idealnya setelah duduk selama 2 jam maka seseorang harus bergerak 15 menit. "Ini dapat mengembalikan aliran darah yang tidak lancar, mengurangi kram dan kesemutan pada bagian tubuh tertentu," terang dr Ari.

Nah, bagi Anda para pekerja kantoran, dr Phaidon menyarankan beberapa aktivitas sederhana yang bisa mengimbangi kegiatan banyak duduk di kantor. Berikut ini aktivitas yang bisa Anda lakukan:

1. Jika bekerja di kantor dalam waktu lama, coba gunakan 'standing desk' atau lakukan improvisasi (bayangkan para resepsionis di hotel yang selalu berdiri saat bekerja).

2. Berdiri saat menerima telepon.

3. Ubah pola meeting dengan jalan-jalan sambil berdiskusi ketimbang meeting dalam kondisi duduk.

Selain kegemukan, duduk terlalu lama juga dapat menimbulkan ambeien bahkan penyakit kardiovaskular.

"Mereka yang menghabiskan waktu lebih banyak duduk, meningkatkan 50 persen kematian dari berbagai penyakit dan juga meningkatkan 125 persen risiko akan kejadian penyakit kardiovaskuler seperti nyeri dada dan serangan jantung. Peningkatan risiko ini dipisahkan dari faktor risiko lain terhadap sakit jantung seperti merokok, dan tekanan darah tinggi," jelas dr Phaidon.

Dengan banyak bergerak, walaupun dengan gerakan santai bisa membuat perubahan besar. Anda akan membakar lebih banyak kalori dan ini berarti pembakaran lemak lebih banyak, sehingga dapat meningkatkan sirkulasi. Selamat mencoba.

Rabu, 10 Juli 2013

[H-um] Cover Story : Daft Punk : Duo Misterius Penguasa Dunia Musik Elektronik

Oleh  Jonah Weiner I rollingstones.co.id  – 01/07/13

Wawancara yang membuka kedok penguasa dunia musik elektronik yang kembali merombak musik dansa.

Paris - Studio Daft Punk di Paris terdapat di jalan raya yang jelek dan ramai di sebelah selatan kota, dekat stasiun kereta dan rumah sakit, di balik pintu garasi hijau. Untuk masuk, kita harus memencet bel dan memperlihatkan wajah ke kamera keamanan, lalu pintunya terangkat dan memperlihatkan halaman indah berisi batu ubin dan sederet gedung berwarna kulit yang dihiasi tumbuhan menjalar.

Pada suatu siang di awal musim Semi, Guy-Manuel de Homem-Christo dan Thomas Bangalter, warga Paris sejak lahir, sahabat sejak lama dan musisi penuh rahasia di balik topeng-topeng robot Daft Punk sedang berdiri di atas batu ubin dan berdiri di bawah sinar matahari seolah-olah baru muncul dari gua. Bisa dibilang memang itu yang terjadi.

“Ini hari indah pertama yang kami lihat setelah berminggu-minggu,” kata de Homem-Christo. Sambil menoleh ke ruang tanpa jendela tempat ia dan Bangalter telah menghabiskan jam-jam tak terhitung untuk mengutak-atik synthesizer demi mencari bunyi-bunyi baru, dia mengangkat bahunya dengan pasrah: “Lagipula kami selalu ada dalam kegelapan.”

Bangalter mengambil kunci dari saku dan membuka ruangannya–di sini, pada April 2008 setelah tur dunia, Daft Punk bersembunyi untuk menciptakan lagu-lagu album keempat mereka, Random Access Memories. Di tur, mereka mengubah amfiteater, lapangan bisbol dan stadion sepak bola menjadi pesta rave penuh euforia, dengan mengendalikan supercomputer khusus dari dalam piramida aluminium setinggi 7 meter yang dilapisi layar-layar di tengah-tengah sinar-sinar LED.

Nama Daft Punk pertama kali melejit dalam ledakan elektronik di tahun ’90-an, tapi tur itu – pertunjukan pop yang revolusioner – membuat mereka jauh lebih populer, dan mengubah mereka dari sisa tren pudar menjadi pionir tak sengaja dari kegilaan akan musik dansa yang telah menaklukkan dunia pop. Artis lain dalam posisi serupa mungkin akan bermain aman – bermain di tempat-tempat yang makin besar dan sold out, dan memainkan musik menghentak yang sama – tapi Daft Punk mengakhiri turnya setelah 48 konser, dan ketika mereka mulai menggarap materi baru, mereka ingin merombak diri sendiri.

“Musik elektronik saat ini ada di zona nyaman, dan tidak bergerak sama sekali,” kata Bangalter. “Seharusnya bukan itu yang dilakukan seniman.”

Bertubuh tinggi dan ceking, Bangalter, 38 tahun, sedang memakai sweater abu-abu dan skinny jeans dengan lubang di lutut yang cukup besar untuk dilewati bola tenis. Wajahnya lonjong dan berjenggot, dengan rambut ikal coklat membentuk Jewfro kecil. (Ayah Bangalter, seorang artis dan produser disko era ’70-an dengan nama panggung Daniel Vangarde, berdarah Yahudi, tapi rumah tangga Bangalter tidak religius.)

Saat Bangalter sedang santai, matanya berbinar dan bahasa tubuhnya menghangat: Dia akan bersandar mendekat, dan mencolek kita dengan ramah untuk menegaskan maksudnya. Namun kadang-kadang, saat orang lain sedang bicara, hidungnya mengernyit seperti tak senang, seolah-olah mencium bau busuk. Michel Gondry, yang kenal Daft Punk sejak mereka menyewanya untuk menyutradarai video untuk hit “Around the World” di tahun 1997, berkata bahwa Bangalter punya sifat kritis dan lugas yang dapat mengejutkan.

“Kami pernah ada di sebuah kedai kopi di Paris, dan dia berkata bahwa dia benci film pertama saya,” kata Gondry sambil tertawa. “Dia merasa itu kurang hidup, dibuat-buat! Sangat kasar, bukan? Beberapa orang memang berbicara apa adanya.”

De Homem-Christo, 39 tahun, berwajah lebar dan halus, dengan bulu wajah kasar pada pipinya dan rambut coklat panjang. Sewaktu remaja, rambutnya berminyak dan acak-acakan, dan dia sering terlihat memakai mantel bulu serta membawa barang-barangnya dalam kantong belanja plastik. Laurent Brancowitz, gitaris Phoenix yang pertama kenal duo itu di tahun 1992, berkata bahwa dulu de Homem-Christo mirip “perempuan” dan “pecandu”, tapi kini penampilannya lebih bersih walau berantakan: jaket kulit coklat, motorcycle boots lusuh, kalung tulang garpu kecil di atas sweatshirt bahan velour hitam. Dia kurang suka kontak mata, dan berbicara jauh lebih sedikit dibanding Bangalter.

“Guy-Man tak banyak bicara,” kata Daniel Dauxerre, yang dulu bekerja di New Rose, sebuah toko musik di Paris tempat Daft Punk mencari piringan hitam Augustus Pablo dan The Beach Boys ketika masih remaja. “Saat dia bicara, selera humornya sangat sarkastis – mungkin dia mengolok kita, kita tak pernah tahu pasti.”

Daft Punk adalah superstar paling misterius dalam pop. Selain menyembunyikan wajah saat tampil di konser, video dan foto, mereka bekerja secara rahasia dan sangat menjaga detail-detail biografis dalam kesempatan wawancara yang langka. Jadi orang luar akan memasuki tempat kerja mereka dengan penuh takjub, barang-barang biasa pun terkesan penuh makna.

Di ruang synthesizer, terdapat piringan hitam Blondes Have More Fun-nya Rod Stewart di satu sudut denganboombox JVC kecil di dekatnya untuk mendengar rough mix, dengan piramida plastik hitam di atasnya. Blu-rayTron: L’Heritage (Tron: Legacy, yang musiknya digubah oleh Daft Punk) dan Star Wars: L’Integrale de la Saga berada di rak di dekat buku desain-desain Saul Bass, Walker’s Rhyming Dictionary dan buku dari seri Life Science Library dengan judul The Mind.

Pada tembok terdapat foto robot-robot Daft Punk berdiri bersama R2-D2 dan C-3PO dalam pemotretan iklan Adidas. “Inilah momen saat saya merasa kami benar-benar memasuki budaya populer,” kata Bangalter.

Dia menuju daya tarik utama kamar itu: sebuah modular synthesizer raksasa yang tingginya sekitar 1,2 meter dan lebarnya 1,8 meter. “Ini adalah sistem khusus, baru dan dibuat untuk kami oleh orang di Kanada,” katanya. Di dalam empat peti kayu seukuran pencuci piring terdapat lusinan osilator, noise generator danenvelope follower; di atasnya terdapat Borg filter, Boogie filter, step seqeuencer dan osiloskop kuno. Lampu-lampu berkelip, tombol-tombol perak dan 933 kenop muncul dari balik kabel-kabel merah, abu-abu dan kuning.

“Dengan synthesizer seperti ini, ada begitu banyak elemen yang mempengaruhi suaranya, dari suhu ruangan hingga kapasitor – ribuan parameter kecil yang kacau,” kata Bangalter dengan bangga. “Ini kebalikan dari lingkungan steril sebuah komputer.” Dia mendengar kabar bahwa produser asal Kanada, Deadmau5, mengetahui tentang sistem itu, mengontak pembuatnya dan “memesan yang sama persis.”

Tapi saat Bangalter menyebut sterilnya musik komputer dengan sinis, dia mengacu kepada penerus-penerus Daft Punk: para idola musik dansa yang mengambil alih mainstream, yang semuanya menggilai Daft Punk. David Guetta memutar lagu-lagu mereka di Ibiza dan menyebut album debut mereka, Homework (1997), sebagai “sebuah revolusi”. Avicii menyebut perkenalannya kepada musik elektronik dengan “mendengar banyak Daft Punk sebelum saya tahu house music itu apa.” Ide helm Deadmau5 berasal dari mereka. Skrillex mengaku bahwa menyaksikan piramida Daft Punk “mengubah hidup saya.” Swedish House Mafia menyatakan “Daft Punk idola kami dalam semua hal.”

Walau banyak dicintai, Bangalter dan de Homem-Christo merasa sangat ambivalen terhadap penerus mereka, dengan musik yang menghantam dan bass drop berat yang dapat ditebak. “Kini, musik elektronik seperti minuman energi dalam bentuk audio,” kata Bangalter. “Para artis menyodorkan musik yang agresif, energetik dan menstimulasi berlebihan – rasanya seperti sedang digoyang-goyang orang. Tapi musik mereka tidak menggerakkan orang-orang secara emosional. Itu bisa membuat merasa hidup, tapi...” 
“Tidak dalam, hanya di permukaan,” kata de Homem-Christo.

“Mungkin itu bedanya cinta dan seks, erotisme dan pornografi,” kata Bangalter.

Saat Daft Punk di tengah-tengah pembuatan album barunya, mereka ingin membuang kebiasaan lama dan bekerja “dari nol,” kata Bangalter. Tiba-tiba mereka merasa bahwa teknik mengambil sample dari piringan hitam funk, disko dan soft rock sudah menjadi rutinitas. Drum machine yang dulu digunakan sebagai fondasi lagu sudah terdengar mekanis – “autopilot,” kata Bangalter.

Mereka buat rencana baru yang akan membawa Daft Punk semakin menjauh dari musik elektronik: “Kami ingin lakukan apa yang dulu dilakukan dengan mesin dan sampler,” kata Bangalter, “tapi dengan manusia.”

Idenya adalah merombak musik mereka tapi tetap mempertahankan esensinya, sekaligus melampaui para penerus mereka. “Dalam musik elektronik sekarang, ada krisis identitas,” kata Bangalter.

“Kita mendengar lagu: Itu lagu siapa? Tak ada ciri khas. Semua orang membuat musik elektronik dengan peralatan dan cetak biru yang sama. Saat mendengarnya, kita merasa itu bisa dibuat pada iPad.” Dia cemberut. “Jika semua orang tahu triknya, tak ada sulap lagi.”

Kisah selengkapnya baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 99, Juli 2013.

Senin, 08 Juli 2013

[S-Um] 3 Hal Yang harus Dipertimbangkan Sebelum Berutang

Oleh  QM Financial | Yahoo She – 31/10/12

Semua orang pasti memiliki alasan sampai mereka memutuskan untuk berutang. Sebagian besar yang memutuskan berutang adalah golongan yang “terpaksa melakukannya”.

Alasan yang sering timbul antara lain: tidak memiliki uang cash untuk membeli sesuatu atau karena susah untuk disiplin menabung. Dengan  memiliki utang, dia terpaksa harus menyisihkan secara rutin dari penghasilan bulanannya.

Melihat kondisi di atas, muncul pertanyaan “apakah setiap orang boleh berutang? Apakah utang kita produktif? Apakah utang kita itu keinginan atau kebutuhan?”


Beginilah jawabannya:

KEMAMPUAN 
Setiap orang yang akan memutuskan berutang tentunya harus melihat apakah dia mampu melakukan pembayaran cicilan yang diambil dari penghasilan bulanan. Persentase yang baik adalah sebaiknya tidak lebih besar dari 35 persen penghasilan bulanan, atau yang biasa kita sebut dengan Debt Service Ratio. Lebih dari itu dikhawatirkan akan mengganggu cashflow bulanan, karena persentase penghasilannya sebagian besar untuk membayar kewajiban utangnya. 

Komposisi utang terhadap aset pun perlu diperhatikan. Total utang yang baik, tidak lebih besar dari kepemilikan asetnya (Liquid and Non Liquid Asset). Persentase yang baik adalah maksimum 50 persen dari aset yang dimiliki, atau biasa kita sebut dengan Debt To Asset Ratio.

Jika kedua rasio diatas sudah bisa kita penuhi, maka bisa dibilang kita boleh berutang. Namun perlu kita tinjau pula pertanyaan di bawah ini.


JENIS UTANG 
Sebaiknya semua bentuk utang yang dimiliki haruslah produktif. Artinya, memiliki nilai manfaat atau masa pakai yang sesuai dengan masa waktu pembayarannya. Sebagai contoh, mengambil cicilan rumah dalam bentuk KPR untuk jangka waktu 15 tahun masih wajar, karena masa pakai rumah biasanya lebih dari 15 tahun.

Banyak yang akhirnya memutuskan untuk berutang demi hal yang kurang produktif, atau masa pakainya lebih singkat daripada jangka waktu pembayaran hutangnya. Contoh: mengambil cicilan handphone selama 2 tahun, untuk masa pakai yang cenderung singkat. Ini biasanya terpengaruh model terbaru yang akan keluar.

Jika utang yang diambil tidak produktif, manfaat yang diterima tidak akan sepadan. Barang yang dimiliki dari berutang pun biasanya tidak terpakai.


KEINGINAN vs KEBUTUHAN 
Keinginan dan kebutuhan itu bertolak belakang. Belum tentu keinginan kita adalah suatu kebutuhan. Sering kali keinginan kita paksakan dan anggap sebagai kebutuhan.

Akhirnya banyak keinginan yang dibeli dengan berutang, sampai tagihan kartu kredit membengkak hanya untuk mengikuti tren, contohnya gadget. Gadget lama masih sangat bagus dan fungsional namun semua itu terkalahkan oleh keinginan memiliki gadget terbaru yang sedang tren dengan berutang. Menjadi "trendi" kemudian tidak relevan jika ternyata kita tidak mampu membayarkan cicilan hutang setiap bulannya.

Keadaan di atas bisa disiasati dengan membuat rekening untuk tujuan yang lebih spesifik dan terpisah dari rekening pengeluaran sehari-hari. Alokasikan sebagian uang khusus untuk memenuhi keinginan pribadi kita, yang dapat digunakan apabila jumlah uang di dalamnya cukup untuk dibelanjakan. Jika dananya belum mencukupi, maka belum dapat digunakan. Paling tidak kita memiliki tujuan dibuatnya rekening tersebut.

Dengan langkah tersebut maka kita dapat mengendalikan kemana larinya uang dan utang kita, apakah utang kita akhirnya menjadi sesuatu yang produktif, dan apakah kita berutang mengikuti keinginan atau kebutuhan.

Selamat berhitung dan akhirnya memutuskan apakah kita pantas dan perlu untuk berutang.

Jumat, 05 Juli 2013

[E-UM] Ayo Dicek, Ini Syarat-syarat Kantor Yang Sehat

Oleh  Erninta Afryani Sinulingga | detikHealth – 27/03/13.


Banyak masalah kesehatan yang berawal dari kebiasaan buruk di kantor. Ditambah lagi, tidak sedikit pengelola kantor yang kurang memperhatikan kesehatan ruangan di kantornya.

Dr. dr. Astrid W Sulistomo, SpOk, Pakar kesehatan kerja dari Universitas Indonesia, memberikan beberapa syarat untuk kantor yang sehat, antara lain:

1. Ventilasi harus baik

"Karena kalau aliran udaranya tidak baik dapat menyebabkan kurang udara bersih. Dan kalau ada yang sedang sakit, virusnya dapat menular lebih cepat karena sirkulasinya tidak baik. Kuman-kuman mudah menyebar," jelas Dr. dr. Astrid W Sulistomo, SpOk, saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (27/3/2013).

2. Penerangan harus cukup. Sesuaikan dengan pekerjaannya.

3. Desain ergonomis tempat kerja dan peralatan yang digunakan.

4. Toilet higienis

"Jumlah yang standar itu 1 toilet untuk 20 orang. Jadi jika ada 400 karyawan sudah semestinya ada 20 toilet di dalamnya," tutur Dr Astrid.

Selain sarana dan fasilitas, kantor yang sehat juga bisa dilihat dari kebiasaan karyawannya. Misalnya tetap aktif bergerak dan olahraga kecil meski disela-sela waktu bekerja.

"Tempat fitnes tidak harus ada karena terkadang perusahaan berat juga untuk menyediakannya. Tetapi bukan jadi penghalang, misalnya perusahaan lebih mempromosikan tempat-tempat fitnes dan bisa juga menggunakan role model seperti manajer yang misalnya ruangannya di lantai 3 tidak menggunakan lift tetapi naik tangga. Itu dapat ditiru oleh karyawan lainnya sehingga dapat dicontoh dan tetap menjaga kesehatan karyawan," jelas Dr Astrid.

Nah, bagi ibu-ibu yang sedang menyusui, idealnya kantor yang sehat juga menyediakan ruangan laktasi. Sayang, belum banyak kantor yang menyediakan ruangan khusus tersebut.

Solusinya, jika tidak ada ruangan laktasi dapat memanfaatkan ruangan-ruangan yang kosong, seperti misalnya ruang rapat yang sedang tidak dipakai. Yang paling penting adalah privasi. Tetapi syarat ruang laktasi sendiri sebenarnya harus ada tempat cuci tangan (wastafel), ada lemari es, ada satu tempat duduk yang nyaman dan bersifat privasi.

Untuk lamanya jam kerja, Dr Astrid menyatakan idealnya karyawan bekerja selama 8 jam. 4 Jam bekerja, 15 menit istirahat, kemudian terpotong waktu makan, lalu bekerja 4 jam lagi.

"Tetapi ini tergantung pada pekerjaannya. Kalau pekerjaannya lebih banyak pekerjaan fisik, harus lebih diperbanyak istirahat dan kurang dari 8 jam," tutup Dr Astrid.