Oleh :
IZ | kabar24 – 03/02/12
”Orang yang tidak bisa merefleksikan diri
mereka akan berakhir dengan membuat keputusan yang buruk karena mereka tidak
benar-benar mengetahui apa yang mereka inginkan sebagai prioritas.”
Pendapat David Welch, profesor ilmu
politik dari University of Waterloo, Ontario, Kanada sekaligus pengarang
buku Decisions, Decisions: The Art of Effective Decision Making itu
layak menjadi renungan.
Setiap hari kita bergumul dengan proses
pembuatan keputusan, mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks. Keputusan
yang sederhana, sebagai contoh, memilih warna busana yang akan kita pakai untuk
bekerja hari ini. Adapun keputusan yang kompleks dapat juga terjadi ketika
menentukan sekolah apa yang akan dituju, memilih pasangan hidup atau bahkan
membeli rumah.
Welch mengajukan sebuah pancingan
menarik. “Sebelum menginginkan sebuah pekerjaan yang baru, tanya diri Anda,
apakah saya benar-benar menginginkan karir yang berbeda? Atau apakah saya
menginginkan atasan yang berbeda? Janganlah membuat keputusan berdasarkan hanya
pada persoalan yang keliru.”
Dari sekian banyak literatur dan
pemikiran pakar manajemen soal pengambilan keputusan yang tepat, hal yang bisa
dikatakan paling mendasar adalah bahwa seseorang harus membuat sebuah daftar
pilihan yang sesuai dengan kebutuhan.
Misalnya, bila Anda menginginkan untuk
membeli sebuah kamera digital, buatlah catatan mengenai fasilitas apa saja yang
akan digunakan dari kamera itu. Semua kamera yang sesuai dengan standar merupakan
pilihan yang baik untuk tujuan tersebut. Alhasil, Anda dapat mengabaikan
hal-hal yang hanya demi kesenangan.
Namun harap diingat, orang sering membuat
keputusan yang buruk ketika mereka sedang mengalami stres. Ketika dihadapkan
dengan pembuatan keputusan yang kompleks, gunakan otak untuk mengumpulkan
informasi yang dibutuhkan dan sediakan waktu khusus untuk beristirahat.
Bahkan para pakar menganjurkan untuk
melakukan suatu kegiatan meski hal itu sebatas berjalan kaki. Tidak ada
salahnya pula melakukan semacam meditasi singat selama setengah jam, tidur
sebentar atau mencoba menikmati minuman ringan.Tujuannya, memberikan pikiran
agar semakin awas untuk bekerja.
Pilihan yang Anda buat setelah melakukan hal
itu biasanya akan menjadi keputusan yang baik atau setidaknya masih bisa
diterima.
Pertimbangan lainnya yang perlu dikaji
adalah mengurangi pilihan dengan menciptakan aturan bagi diri Anda sendiri.
Dalam kaitan itu, jurus yang lazim direkomendasikan adalah membuat jadwal
layaknya seseorang ingin pergi beryoga setiap pekan.
Pada intinya, sekali keputusan dibuat,
tanya diri Anda bagaimana perasaan Anda setelahnya dan pengalaman apa yang
dapat Anda peroleh.
Menurut teori klasik, pengambilan
keputusan haruslah bersifat rasional. Keputusan diambil dalam situasi yang
serba pasti. Pengambil keputusan harus memiliki informasi sepenuhnya dan
menguasai persoalan.
Pemikiran ini mendasarkan diri pada
asumsi dari orang yang mempunyai pikiran ekonomi rasional untuk
mendapatkan hasil atau manfaat maksimal. Artinya, segala sesuatu mengarah pada
sebuah kepastian.
Lalu muncul pertanyaanm bukankah
pengambilan keputusan harus berorientasi pada apa yang seharusnya dilakukan,
bukan pada apa yang seseorang ingin lakukan. Lagi pula, manusia tidak selalu
serba mengetahui dengan pasti. Artinya, ada hal-hal yang belum diketahui dengan
pasti.
Pendekatan lainnya atau yang lazim
disebut teori perilaku menekankan pada keterbatasan kemampuan pimpinan untuk
berpikir rasional penuh dalam menangani masalah. Dari informasi yang ada dan
beberapa alternatif yang tersedia atau disediakan oleh unit pengolah data maka
apabila pimpinan telah merasa puas dengan salah satu alternatif pemecahan
masalah, maka alternatif itulah yang dipakainya.
Secara umum keputusan dapat dibedakan
dalam keputusan yang sederhana dan keputusan yang kompleks. Namun dilihat dari
aspek tingkatannya, dapat dipilah lagi menjadi tiga bagian seperti yang
dikemukakan Irwin D. Bross.
Pertama, keputusan otomatis, kedua,
keputusan memori, dan ketiga, keputusan kognitif.
Salah satu tugas terpenting seorang
pemimpin adalah untuk menentukan yang terbaik bagi organisasi dan para
anggotanya. Namun dalam mengambil keputusan, terkadang pemimpin pun menghadapi
dilema dan seolah berada di persimpangan jalan.
Apalagi jika pilihan yang ada membuat
mereka harus mengorbankan kepentingan orang lain atau memberikan resiko yang
akan merugikan tim. Namun kadangkala keputusan sulit harus diambil demi
terwujudnya cita-cita bersama.
Adakalanya pemimpin ternyata mengambil
keputusan yang salah dan merugikan organisasi. Namun, percayalah melakukan
kesalahan dalam mengambil keputusan masih lebih baik dibandingkan tidak
melakukan tindakan apapun sama sekali.
Kecepatan dan ketepatan seorang pemimpin
dalam mengambil keputusan lazimnya menjadi tolak ukur kompetensi dan
kredibilitas yang dimilikinya. Jika pemimpin lamban dan ragu-ragu dalam
bertindak, anak buah akan melihat Anda sebagai orang
yang indecisive, takut, dan tidak tegas sehingga membuat mereka
mempertanyakan kemampuan pemimpin, bahkan kehilangan kepercayaan terhadap
mereka.
Terbiasa cepat dalam pengambilan
keputusan memang bukan pekerjaan mudah, butuh rasio yang jernih dan intuisi
yang tajam agar bisa menghasilkan keputusan yang tepat. Namun bukan berarti
kemampuan tersebut tidak bisa diasah dan dipertajam.(iz)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar